Menulis

Menulis 

Satu hal yang membuat saya menjadi saya yang sekarang adalah menulis. Entah ini membentuk karakter diri saya atau tidak yang pasti menulis adalah bagian dari diri saya, seorang Yana Safitri. Banyak sarana mengekspresikan diri yang dapat dilakukan oleh manusia, dan menulis adalah sarana mengekspresikan diri bagi saya.

Saya bukan penulis profesional, tapi tentu keinginan untuk membuat buku sempat terbesit dalam diri saya. Tapi rasanya masih jauh dan kemampuan saya dalam menulis masih kurang mumpuni. Amunisi pengetahuan saya juga masih kurang, karena saya akhir-akhir ini juga jarang membaca. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Saya yakin penulis hebat adalah mereka yang juga rajin membaca. Kalaupun tidak bagi saya itu adalah arogansi atau mungkin sudah wahyu Tuhan.

Saat itu saya masih sekitar kelas 5 atau 6 SD ketika saya senang sekali berdiam diri di teras rumah untuk mengisi diari berwarna oranye-biru. Entah, saya tidak begitu ingat apa yang saya tuliskan pada masa itu namun hal-hal kecil seperti menulis diari adalah sesuatu yang membuat saya senang menulis hingga sekarang.

Bagi orang-orang yang dekat dengan saya, mungkin tidak asing ketika saya meng-encourage mereka untuk menulis, meyakinkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk menulis. Saya menguatkan orang terdekat saya untuk menulis dalam artian sebagai sarana menekspresikan diri mereka, karena manfaatnya memang sudah saya rasakan sendiri. Bahkan menulis dapat menjadi sarana terapi untuk mengurangi stres dan depresi.

Metode menulis ekspresif atau menulis pengalaman emosional telah menjadi kajian yang menarik pada dua dekade belakangan ini. Menurut Poerwadarminta (1976), menulis adalah suatu aktivitas melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis memiliki suatu kekuatan tersendiri karena menulis adalah suatu bentuk eksplorasi dan ekspresi area pemikiran, emosi dan spiritual yang dapat dijadikan sebagai suatu sarana untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan mengembangkan suatu pemikiran serta kesadaran akan suatu peristiwa (Bolton, 2004).

Terapi Menulis adalah suatu aktivitas menulis yang mencerminkan refleksi dan ekspresi klien baik itu karena inisiatif sendiri atau sugesti dari seorang terapis atau peneliti (Wright, 2004). Pusat dari terapi menulis lebih pada proses selama menulis daripada hasil dari menulis itu sendiri sehingga penting bahwa menulis adalah suatu aktivitas yang personal, bebas kritik, dan bebas dari aturan bahasa seperti tata bahasa, sintaksis, dan bentuk (Bolton, 2004). Oleh karena itu, menulis dapat disebut sebagai bentuk terapi yang menggunakan teknik sederhana, murah, dan tidak membutuhkan umpan balik (Pennebaker, 1997; Pennebaker & Chung, 2007).

Tulisan saya memang seringkali acak-kadul. Namun bagi saya selama ini belum menyentuh hal profesional hanya ingin mengekspresikan diri dan sarana berbagi rasanya mendobrak kerapihan untuk ekspolrasi itu bukan sebuah pelanggaran.

Menulis juga dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan diri sendiri, memepertanyakan dan menjawab pertanyaan tentang eksistensi diri kita. Memang melelahkan bagi beberapa orang, namun dapat memperbaiki dan menjadi renungan bagi diri kita untuk menjalankan kehidupan. Menulis bukan lagi persoalan hal-hal formal, namun sudah seharusnya masuk ranah personal.

Ayo menulis!hehe

Bungkus Mie Instan

Ada bagian dari waktu yang begitu paradoks. Bukan, bukan saat menunggu. Bukan saat pula menghapus luka, namun saat waktu begitu disebutnya sebagai penghapus luka.

Lembar-demi lembar dilempar dan disengat oleh ingatan masa lalu, namun ranjau masa depan enggan kalah. Nurani adalah nurani, kemurnian selalu mengalir di dalamnya.

Ditulis pada 7 Maret 2016

Bincang-Bincang #1 – TIDUR

“Mengapa di dunia ini harus ada kegiatan atau sesuatu yang disebut dengan tidur? Tidakah itu buang-buang waktu, menghabiskan waktu untuk menutup mata. Setelah terbangun rasanya tetap saja lelah, masalah yang ada tak terselesaikan dengan hanya menutup mata. Mengapa tubuh kita tidak didesign sebagai makhluk yang memang tidak membutuhkan tidur? Kalau di dunia ini tidak ada opsi tidur, mungkin akan lebih banyak karya tercipta.”

“Berhenti berandai-andai dengan apa yang sudah ada, syukuri. Tidur tercipta agar kamu mennghargai apa itu jeda. Bagimana rasanya hilang namun tidak lenyap. Tidur begitu nian bermanfaat dan bermakna jika kau lebih banyak mensyukuri karunia-Nya.

(Mulai sekarang mau nulis bincang-bincang. Untuk mencurahkan paradoks atau kontradiksi yang begitu rancu di dalam benak ini.)

[love letter to self]

i don’t think so. but, i forgive you, girl, who tallied stretch marks into reasons why no one should get close. i forgive you, silly girl, sweet breath, decent by default. i forgive you for being afraid. did everything betray you? even the rain you love so much made rust out of your jewellery? i forgive you, soft spoken girl speaking with fake brash voice, fooling no one. i see you, tender even on your hardest days. i forgive you, waiting for him to call, i forgive you, the diets and the cruel friends.  especially for that one time you said ‘i fucking give up on love, it’s not worth it, i’d rather be alone forever’. you were just pretending, weren’t you? i know you didn’t mean that. your body, your mouth, your heart, made specifically for loving. sometimes the things we love, will kill us, but weren’t we dying anyway? i forgive you for being something that will eventually die. perishable goods, fading out slowly, little human, i wouldn’t want to be in a world where you don’t exist.

-favorite human

Sekarang ini saya sedang magang dan praktikum di suatu lembaga, yang harus bolak-balik Jatinangor-Bandung macet-macetan. Rasanya selalu berharap kalau kerja atau udah tua nggak macet-macetan macam itu, tapi pertanyaan selanjutnya apakah saya bisa jadi go-big, kalau nggak macet-macetan. Gatau lah. Mau ke Halmahera.

8:37 PM

Dalam tiap titik hujan yang bersemayam dalam jiwa aku mengadu pada Tuhan hendak kemana jiwa ini dibawa. 

Semakin titik hujan menghujami bumi, bukan hanya Garut yang tenggelam tetapi juga jiwa ini. Tuhan.