Akankah yang saling pergi tanpa meninggalkan jejak akan bertemu kembali? Jika ya, dalam tiap arahnya ada kuasa Gusti Allah bekerja.

Advertisements

Ruangan ini aku buatkan untukmu, walau tidak luas aku harap ini cukup untuk menampung malammu yang gelap. Meneranginya dengan lampu kecil yang sudah kusiapkan di dalamnya.

1488026403585

Ruangan ini tak senyaman, pantai yang pernah kau datangi di bulan November tahun lalu. Tapi yakinlah, suara-suara dalam ruangan yang ku berikan bisa meredakan suara gemuruh dan badai yang selama ini menakutimu.

Terimalah ruang yang kuberikan.

I don’t have a name for this feeling, but now I’m so above between the clouds and I can’t see your face.

Other time, I would feel like I’m underwater, drowning into the deepest and nothing let me out from the ocean. “i couldn’t breath, i couldn’t breath” i whisper under the water, i hear nothing but my own death.

But I lived again.

I could fly higher than the bird could be, but i was still feeling not free. I flied to the top of mount Everest. I didn’t feel cold, but inside had already frozen before I flied. That time, i dead again.

When would this stop? I asked God.

Until you find yourself, God answered.

I’m between the clouds, can you see me now? Help me find myself, darling.

To Those

To those who wake up every morning and struggling with dark mind,

I know get up every morning is not easy, it is not because you are lazy, that darkness inside your mind right when you wake up somehow creates anxiety that makes you even more barely to get up from bed. You wished to disappear while you were sleeping but you are not.

I love the way you struggle and create your own energy.

To those who wake up every morning and struggling, maybe your death can be today or tomorrow. But I saw you were dead inside yesterday, no one showing their grief over your death. hahaha You see, you are alive, you have another day to live.

To those who wake up every morning and struggling, you are questioning what is it life for. You won’t get the answer now, do not trying harder to find the answer. Life is funny sometimes, it doesn’t always give you reason but you have to do it anyway.

To those who wake up every morning and struggling, you are anxious in crowded place you think you need to stop being anxious, and you cursing a lot because you are incapable to handle it. It doesn’t matter how many times you are being anxious, remember you will survive it anyway. Enjoy it, if you can not control it.

To those who wake up every morning and struggling, you think you are failed. You don’t if you already tried. If you still call lesson as failure, baby you can consider it as life’s mark. It’s okay to have scars, you are beautiful. Just like the sky with the dark colors.

To those who wake up every morning and struggling,

You are fine.

Sorry, for not helping.

December 7, 2016

Morning Routine

What do you do the right time after you wake up from your sleep? 

Morning is an essential time of the day. You may wake up with nothingness, happiness, sadness, excitement, or else. But what do you do after wake up with that feeling? I often did a not good thing to do in the morning. It was checking instagram and other social medias, I saw other people’s life and didn’t engage with my morning moment. I woke up seeing other’s happiness, sadness, complexity.

The worst was when I saw someone’s life more satisfying than mine. I started to think myself bad, self-loathing a lot. And that happened in the morning. You could imagine what’s the rest. I walked in with sadness, think I wasn’t enough, I did nothing to my life, “this is not fair God.”

Get away from your phone, have a good breakfast, write your gratitude, read books (this is food for your mind, since today is people eat what’s on social media, subjectivity, hatred #ImSoDone) think you are enough, you have your own life, masih banyak cara menjadi besar.

Menulis

Menulis 

Satu hal yang membuat saya menjadi saya yang sekarang adalah menulis. Entah ini membentuk karakter diri saya atau tidak yang pasti menulis adalah bagian dari diri saya, seorang Yana Safitri. Banyak sarana mengekspresikan diri yang dapat dilakukan oleh manusia, dan menulis adalah sarana mengekspresikan diri bagi saya.

Saya bukan penulis profesional, tapi tentu keinginan untuk membuat buku sempat terbesit dalam diri saya. Tapi rasanya masih jauh dan kemampuan saya dalam menulis masih kurang mumpuni. Amunisi pengetahuan saya juga masih kurang, karena saya akhir-akhir ini juga jarang membaca. Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang sulit dipisahkan. Saya yakin penulis hebat adalah mereka yang juga rajin membaca. Kalaupun tidak bagi saya itu adalah arogansi atau mungkin sudah wahyu Tuhan.

Saat itu saya masih sekitar kelas 5 atau 6 SD ketika saya senang sekali berdiam diri di teras rumah untuk mengisi diari berwarna oranye-biru. Entah, saya tidak begitu ingat apa yang saya tuliskan pada masa itu namun hal-hal kecil seperti menulis diari adalah sesuatu yang membuat saya senang menulis hingga sekarang.

Bagi orang-orang yang dekat dengan saya, mungkin tidak asing ketika saya meng-encourage mereka untuk menulis, meyakinkan bahwa setiap manusia memiliki kemampuan untuk menulis. Saya menguatkan orang terdekat saya untuk menulis dalam artian sebagai sarana menekspresikan diri mereka, karena manfaatnya memang sudah saya rasakan sendiri. Bahkan menulis dapat menjadi sarana terapi untuk mengurangi stres dan depresi.

Metode menulis ekspresif atau menulis pengalaman emosional telah menjadi kajian yang menarik pada dua dekade belakangan ini. Menurut Poerwadarminta (1976), menulis adalah suatu aktivitas melahirkan pikiran dan perasaan dengan tulisan. Menulis berbeda dengan berbicara. Menulis memiliki suatu kekuatan tersendiri karena menulis adalah suatu bentuk eksplorasi dan ekspresi area pemikiran, emosi dan spiritual yang dapat dijadikan sebagai suatu sarana untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan mengembangkan suatu pemikiran serta kesadaran akan suatu peristiwa (Bolton, 2004).

Terapi Menulis adalah suatu aktivitas menulis yang mencerminkan refleksi dan ekspresi klien baik itu karena inisiatif sendiri atau sugesti dari seorang terapis atau peneliti (Wright, 2004). Pusat dari terapi menulis lebih pada proses selama menulis daripada hasil dari menulis itu sendiri sehingga penting bahwa menulis adalah suatu aktivitas yang personal, bebas kritik, dan bebas dari aturan bahasa seperti tata bahasa, sintaksis, dan bentuk (Bolton, 2004). Oleh karena itu, menulis dapat disebut sebagai bentuk terapi yang menggunakan teknik sederhana, murah, dan tidak membutuhkan umpan balik (Pennebaker, 1997; Pennebaker & Chung, 2007).

Tulisan saya memang seringkali acak-kadul. Namun bagi saya selama ini belum menyentuh hal profesional hanya ingin mengekspresikan diri dan sarana berbagi rasanya mendobrak kerapihan untuk ekspolrasi itu bukan sebuah pelanggaran.

Menulis juga dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan diri sendiri, memepertanyakan dan menjawab pertanyaan tentang eksistensi diri kita. Memang melelahkan bagi beberapa orang, namun dapat memperbaiki dan menjadi renungan bagi diri kita untuk menjalankan kehidupan. Menulis bukan lagi persoalan hal-hal formal, namun sudah seharusnya masuk ranah personal.

Ayo menulis!hehe