Sedikit Tentang Mental Health

Mungkin tulisan ini akan banyak berada pada sudut pandang subjektif, yaudah lah nga papa. Pada akhirnya manusia memang tidak bisa terlepas dari kesubjektifan dirinya.

Pernah ndak kamu merasa lelah dengan seluruh hal dalam hidup? Ingin lenyap saja, bukan mati namun lenyap tidak pernah ada? Mungkin beberapa atau semua orang pernah merasakannya. Tapi lantas apakah lelah tersebut mengganggumu atau hanya sekelebat saja? Dan tetap menjalani hari dengan penuh matahari berbinar di hati atau lantas makin semakin merosot dalam jurang kesedihan hidup? Semua orang punya self-mechanism masing-masing, jadi jawabannya tidak pasti iya/tidak pada setiap orang.

Manusia memiliki dua hal yang harus kuat, yaitu kesehatan fisik dan jiwa. Sementara kesehatan fisik dapat dilihat atau dideteksi dengan fasilitas medis yang dapat ditemui dengan mudah. Bagaimana dengan kesehatan mental? Jika mental illness adalah sebuah penyakit, akankah kamu membiarkan seseorang mati perlahan karena penyakit tersebut tidak segera ditangani. Buktinya masih banyak orang yang melakukan bunuh diri, dan tidak semua karena mereka menderita penyakit fisik.

Data terbaru WHO mencatat bahwa setiap 40 detik, satu orang yang meninggal karena bunuh diri. Rasionya yaitu 11,4 per 100 ribu populasi. Sementara untuk di Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2012, angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100 ribu populasi. (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150911165128-20-78152/menyoal-kasus-bunuh-diri-di-indonesia/).

Processed with VSCO with p5 preset

Ini Kopi Es Tak Kie, sumpah enak banget. Cari aja sendiri di mana tempatnya!!! ahahahaha

 

Kehidupan yang semakin kompleks memunculkan pula sisi-sisi manusia yang semakin kompleks. Tak lain adalah, mental illness itu sendiri, menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran social. Menurut American Psychiatric Association (1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distress (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu.

Mental illness disbebabkan karena banyak faktor, mulai dari faktor organik/somatik seperti ada kelainan pada otak. Lalu, faktor psikis yang memang disebabkan oleh gangguan pada reaksi atas impuls-impuls yang ada, ketidakmampuan untuk memikul pikiran, kesedihan, depresi, disintegrasi kepribadian dan lain sebagainya. Dan faktor yang satu ini adalah faktor eksternal, yang memang muncul dari luar diri manusia itu sendiri, yaitu faktor lingkungan/sosial, ngerasa gak sih dunia makin berjalan cepat modernitas, gaya hidup, perubahan terus terjadi lalu beberapa manusia tidak smua dapat adaptif dengan itu semua, atau lingkungan sosial yang tidak mendukung dia untuk tumbuh sebagai manusia sesungguhnya. Seperti misalkan ada orang yang homoseksual, terus dikucilkan seakan hidup dia memang hina, bukan diempowerment.

Ya faktornya memang banyak, saya yakin semua orang pernah stress dan merasa giving up dengan dunia, tapi tidak semua orang capable untuk mengatasi itu semua. Ada orang introvert dan extrovert, mungkin extrovert lebih mudah untuk coping situasi sulit dalam dirinya (labelling nga jatuhnya) tapi sejauh ini demikian yang saya amati. Sementara mereka yang introvert kalau sudah masuk ke black hole mereka memilih diam, dan semakin masuk ke sana. Dan tidak mudah untuk menceritakannya pada orang lain. Dan itu somehow membuat mereka kewalahan dan berujung pada stres dan bahkan depresi.

Ya tulisan ini, gak tahu arahnya ke mana. Pokoknya saya hanya ingin memberitahu pada siapa pun yang diberikan kesempatan oleh Tuhan YME untuk membaca ini, pedulilah dengan orang-orang di sekitar anda. Lebih aware aja, gak perlu mempertanyakan mereka stres atau depresi atau apa, kalau memang mereka butuh bantuan berikan, kalau nga meminta maaflah karena kapasitas diri anda belum bisa membantu. Oh ya, sebenarnya jenis mental illness ada banyak, ada banyak sekali bacaan menganai itu, atau bisa langsung cek di sini: https://undas.co/2015/10/yuk-mengenal-apa-itu-mental-illness/ BACA YA! jangan apa-apa saling tuduh wkwk. apaan.

Jangan menguburkan orang yang belum mati kawan. Jangan. Sirami mereka dengan air, biarkan mereka merekah. Jangan anggap mereka yang memiliki mental illness itu tidak beradaya, hanya karena stigma kita yang demikian and ahanya perlu memahami mereka, dan memberi mereka ruang untuk berkeskpresi. Sedih banyak orang dipasung karena mental illness 😦

Buat siapa pun yang membaca ini, sehat/tidak sehat secara fisik atau psikis. Saya peduli dengan kalian, saya mau mendengar cerita anda dan berbagi jangan merasa sendiri. 🙂

Beneran ya, manusia itu kompleks banget but beautiful.

erk-x-barasuara-2

Bonus photo Iga Masardi dan Cholil, bekaus pas ngetik sambil mendengarkan                       SFTC: Efek Rumah Kaca x BARASUARA

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s