Senjakala Senja

“Senja sudah mati,” begitu yang selalu dikatakan orang-orang. Tidak! aku selalu berontak di dalam hati, dan membalas mereka dengan senyuman. Senja memang belum mati, senja hanya redup untuk sementara, mungkin akan menghabiskan waktu lama. Aku akan menunggu.

Sudah 3 tahun senja tak kunjung kembali. “Senja sudah mati,” mereka berkata demikian lagi. Aku kini mulai geram, dan mulai mengutuki senja yang mulai merobohkan dinding kepercayaanku dia akan kembali.

Untuk Senja :

Biarkan aku dekap sakit ini bersama rasa rindu pada sesuatu yang-entahlah. Semakin aku lawan semakin rasa ini tak berperasaan. Bukan aku tak mencoba membebaskan namun aku ditempa hukum mati tak termaafkan.

Senja. Begitu namamu kini kaku dan hatiku semakin membeku ketika menyebut namamu.
Senja. Ingin aku menyebut namamu dengan syahdu dan berharmoni layaknya senja yang sering kita saksikan pada pukul lima sore sepulang lari di taman kota. Aku akan tertawa mendengar bagaimana dengan lucunya kau berargumentasi tentang berbagai macam aliran agama, tidak aku tidak boleh tertawa begitu gumam hatiku ketika kau membuat lelucon tentang agama. Nyatanya, kau selalu menjadi pemenang.

Senja. Benarkah kini kau memang telah ditelan malam? Bukankah kau pernah mengatakan, senja adalah senja sedang malam adalah malam tak akan senja di jemput oleh malam yang ada hanya senja yang memilih pergi sementara dan menjadikan malam hidup. Katamu lagi, “senja akan tiba pada waktunya.”

Mengapa kau tak kunjung kembali. Senja, aku tidak akan menangis untukmu, bukan karena aku tak menjadi sedih kau pergi. Dua tahun kita bersama, diisi dengan gelak tawa, diisi dengan kegiatan pembebasan diri dari belenggu sistem yang tak kita sukai, dua tahun bersamamu yang membahagiakan. Karena bagiku, kepergianmu bukan menjadikan hidupku alpa dari kebahagiaan. Namun waktu bagiku untuk mensyukuri waktu yang telah kita lalui bersama, waktuku bersama orang yang tak akan pernah aku temui meskipun dalam sudut terkecil di semesta ini. Kau, senja.

Akankah kau mengizinkanku menangis, detik ini?
Senja ini sudah pukul lima sore, dimana kamu? Mengapa tak kunjung kembali.
“Senja sudah mati,” benarkah senja?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s