Berkahku Malapetaka Bagimu

Karena keberkahanku, malapetaka bagimu kawan,
Karena kesenanganku, kesenduan untuk jiwamu kawan,
Karena senyummu, adalah tangisku kawan,
Karena aku, bukan kamu kawan,
Biarkan seni kehidupan itu mengalir di antara kita.
Perbedaan bukan hal yang baru bagiku, namun bukan berarti menjadikan aku sudah piawai  menghadapi perbedaan-perbedaan dalam kehidupan. Terlahir dan besar di dalam masyarakat yang sangat heterogen dan juga tumbuh bersama keluarga yang memiliki berbagai macam kebudayaan menjadikanku tumbuh menjadi individu yang memiliki toleransi tinggi dalam hal perbedaan meski tak semua jenis perbedaan mudah aku toleransikan.

Pernah aku bertanya apakah rasa toleransi itu sebuah anugerah dan meraka yang sulit bertoleransi terlebih dalam hal perbedaan adalah mereka yang tidak dianugerahi rasa toleransi itu? Ada seorang teman tidak bisa bertoleransi ketika ada yang ingin meminjam bukunya, dan itu semua karena ada suatu perasaan tidak nyaman ketika ada yang meminjam bukunya. Namun temanku itu ingin sekali belajar untuk mulai bertoleransi pada hal tersebut, dan ia pun mulai untuk membuka diri ketika ada yang ingin meminjam buku. Dan sejenak aku berpikir bahwa rasa toleransi itu kadang memang butuh proses belajar dan dibiasakan.

Aku cenderung melihat segala sesuatu dari berbagai macam sisi, hingga kadang itu semua membuat rancu. Aku sering menjadi orang yang tak berpihak kepada sisi manapun, meskipun ada lain waktu aku harus berpihak pada sesuatu hal. Perbedaan pendapat adalah contoh perbedaan yang sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari, yang sulit adalah bagaimana menyikapi perbedaan pendapat sementara kita memiliki apa yang menjadi kebenaran milik kita dan di sebarang sana juga ada orang yang memiliki sesuatu yang mereka anggap sebagai suatu kebenaran. Aku yang cenderung tak menyukai debat ini pada akhirnya harus membuka mulut untuk mencoba menengahi, atau kadang jika kepalaku sudah bekecamuk dengan berbagai macam pendapat aku memilih diam, tak ada kata yang bisa aku pungut dari pikiran dan lontarkan.
Perbedaan menjadi sesuatu yang tidak rumit, ketika yang memiliki perbedaan-perbedaan itu adalah mereka yang mau membuka diri pada perbedaan itu sendiri. Bagiku tidak ada selera musik yang jelek dan sebaliknya, yang ada hanya perbedaan dalam menentukan apa yang kita sebut nikmat. Orang yang biasa disebut memiliki selera musik rendahan atau selera musik jelek bisa saja tidak memilih untuk menyukai musik yang biasa mereka nikmati, namun ada sesuatu yang menjadikan mereka sangat menikmati jenis musik tertentu. Itu hanya perihal perbedaan nikmat.

Bahkan manusia sendiri terlahir dari perbedaan, perbedaan lawan jenis. Perbedaan memang sudah menjadi seni kehidupan, dan harmoniasasi dan keindahannya sendiri ditentukan oleh siapa yang memegangnya. Tak ada sesuatu definitif sama di dunia ini kecuali kata sama itu sendiri. Kita tidak akan bertemu orang dengan perasaan yang sama, akan berbeda meski mirip.

Kadang aku begitu mengutuki diri ini yang begitu terbuka dengan perbedaan, karena kadang aku bertanya “where do I belong?” Dan di lain sisi terbuka pada perbedaan itu sendiri membuatku mudah untuk memasuki berbagai macam kehidupan manusia.

Perbedaan bukan masalah, karena itu semua anugerah, tak dapat dielak dari muka bumi ini. Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak dapat menyikapi perbedaan itu. Perbedaan. Perbedaan. Perbedaan. Adakah kamu di sana sedih sedang aku gunjungkan.

Maaf atas tulisan yang tidak terarah ini, sebenarnya banyak yang ingin ditulis namun terbentur akan distorsi pikiran yang berujung pada ketidaktahuan ingin berbagi apa lagi.
Salam damai kawan,

Yana S. S
Dalam jarak yang tidak terbatas,
Aku ingin mencintaimu dengan perbedaan kita,
Kau dengan kesederhanaanmu,
Dan aku yang selalu dengan kerumitanku,
Kau dengan kesistematisanmu,
Dan aku dengan jiwa abstrak-ku,
Saat kita tak memiliki perbedaan,
Mungkin saat itu juga kita hanya akan diam tak berkembang,
Bersama perbedaan kita,
Aku merasa satu denganmu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s