Tak Menahu Mengapa Tidak Tahu Hendak Dijuduli Apa : Jakarta

Jakarta adalah sebuah perpektif… mari mencari diksi lain karena Jakarta tidak terlahir dari (hanya) sebuah perspektif. Jakarta menyajikan berbagai macam perspektif, walau kadang saya sulit memberi penjelasan eksplisit tentang perspektif-perspektif itu. Saya sering merindukan Jakarta kala sedang berkuliah, namun ketika di Jakarta saya begitu mengutuki panas yang menggebu, seakan Jakarta adalah sebuah akuarium dengan lampu tegangan tinggi yang terus menyala dan diisi dengan berbagai macam ikan, berbagai macam jenis benda. Pengap.
Berjalan menyusuri Jakarta lebih baik tak mengharap pikiran akan menjadi tenang, namun jangan juga pesimis akan terus menebar kesemerawutan pikiran. Itu semua tergantung bagaimana kita mengajak pikiran kita untuk menikmati setiap sudut kota ini. Saya bukan orang yang paham betul seluk-beluk Jakarta, saya hanya orang yang sesekali mengembara dan di kemudian hari akan (sedikit) lupa jalan menuju suatu tempat di Jakarta.
Berjalan di Jakarta memandang berbabagi macam orang sering kali membuat saya ingin menyelam dalam lautan pikiran mereka, saya selalu bertanya-tanya apa yang ada di benak orang berpakaian lusuh di gerbong kereta, apa yang membuat perempuan cantik di sebrang sana tak kunjung menyebrang dan hanya teremenung, apa yang mereka tunggu, apa yang mereka cari, apa yang mereka perjuangkan, bagaimana mereka setiap hari berjuang melawan panas kota ini, mengapa anak-anak itu tertawa lepas, apa yang membuat mereka tak bisa lepas memandangi layar ponsel, seberapa lelahkah mereka, apa mungkin di antara mereka ada seorang bipolar, atau mungkin psikopat, atau ada yang kemarin baru saja cerai atau menikah, atau baru dikarunia seorang anak, dan selama itu pula aku hening di tengah keramaian itu.
Dan semua itu membuat saya merasa tidak sendirian.
Selama liburan ini saya dua kali menyusuri Jakarta, di awal pergi ke Jakarta Biennale bersama kawan dari satu fakultas, lalu menyusuri Jakarta Kota dan sekitarnya. Awalnya ingin mencari Kopi Es Tak Kie, pergi tanpa membaca reviewdahulu sampai sana yang ada hanya gang di dalam pasar yang tidak sedang beroperasi. Lalu kami hanya jalan-jalan di sekitar sana, menuyusuri jalan yang gelap dengan banyak seniman lukisan, dan pedagan kaki lima. Kami makan dekat Museum Fatahillah, begitu ramainya dan membat akuarium ini semakin riuh dan pengap. Namun, sekali lagi Jakarta adalah bagaimana kita menikmatinya. Malam itu satu hari sebelum malam tahun baru sungguh ramai di sana, berbagai macam barang dan makanan dijajakan, ada lesehan dan seketika manusia di sana berwujud dengan berbagai macam bentuk, ada yang seperti di pasar, ada yang menikmatinya layaknya sedang piknik ada yang seperti di pasar malam, ada yang makan, ada yang teriak-teriak. Hidup.
(Budiman sedang di salah satu sudut instalasi seni di Jakarta Biennale)
(suasana malam di depan Museum Fatahillah)
Karena Kopi Es Tak Kie yang saya inginkan belum tercapai akhirnya beberapa hari kemudian  saya mengajak rekan berpetualang saya. Acha dan Echa. Ya cukup sulit memenggil mereka ketika sedang bersama. Sudah lama tidak bercengkrama dengan mereka berdua, padahal Acha dulu teman satu kamar kostan. Kami berangkat pukul delapan pagi, dan menuju Kopi Es Tak Kie dari Stasiun Kota pukul sepuluh siang, berjalan kaki. Kopi Es Tak Kie yang kami pesan adalah yang memakai susu semua, sebenarnya saya ingin pesan yang hitam namun kondisi diri tidak mendukung. Tidak kecewa, dan memang sungguh nikmat. Harganya 17.000 namun hanya tempatnya yang jauh, karena kami dari Depok.
Selesai menikmati Kopi Es Tak Kie, kami melanjutkan petualangan di Jakarta hingga senja.
(kopi es susu)
Selamat siang, semoga anda bisa menikmati Jakarta menggunakan perspektif anda.
(di depan halte Bundaran HI)
(lupa)

(dekat Stasiun Sudirman)

(Stasiun Jakarta Kota)

(Toko Kawi)

(salah satu instalasi seni)

(soto enak)

(busway)

                                           (kedai kopi di daerah Sabang, Jakarta Pusat)

(Yana, Acha, Echa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s