Senjakala : Sedikit Catatan 2015

Sudah menunjukan tanggal 27 Desember, begitu waktu terus berpacu, begitu semua (seakan) cepat berlalu. 2015 begitu syahdu dan bercerita, layaknya tahun-tahun yang sudah berlalu. Namun tahun ini memang banyak belajar. 2015, tahun kehilangan dan menemukan. Sebetulnya kehilangan dan menemukan adalah sesuatu yang terus terjadi di sepanjang waktu, namun ada yang begitu menoreh dan membekas namun juga ada yang berlalu begitu saja. 2015 buatku memang waktu untuk banyak belajar. Belajar untuk berani, belajar untuk mencari dan menjawab yang tanda tanya. 
Kini memang berbeda dengan satu tahun yang lalu, satu tahun yang lalu tulisan akhir tahunku aku dedikasikan untuk dia yang kini telah terkubur bersama memori dan angin masa lalu, meski kadang jika diingat akan menghembuskan pilu, namun aku sudah belajar untuk membiarkan dia pergi. Nyatanya memang dia sudah pergi. Kini di penguhujung tahun aku mencoba menuliskan (apa yang bisa aku tulis) bagaimana tahun ini, meski sulit karena memang banyak yang terjadi bahkan tidak bisa digambarkan dan dijelaskan dengan berbagai macam diksi. 
Awal 

Di saat awal tahun 2015 menjemput, aku masih mencoba membangun kembali apa yang telah hancur. Nyatanya tak semua yang sudah hancur  harus dibangun, biarkan ia hancur, biarkan, biarkan. Pergi dan tinggalkan, jika memang sulit dan sakit untuk membangun apa yang sudah hancur. Bangun sesuatu yang lebih menjakjubkan di tempat baru. Itu lah caraku. Awalnya aku mencoba memperbaiki apa yang telah hancur, namun jiwa semakin sakit dan kebingungan bagian mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu. Dan bijaksanaku memilih untuk meninggalkan kehancuran itu, biarkan ia tumbuh bersama ilalang, dihembuskan oleh angin dan dihujani yang kelak akan bersemai hutan yang rindang. Sembari menunggu itu aku terus digandeng oleh waktu, membangun hal baru meski dengan merangkak, namun diri akhirnya bisa belajar berdiri hingga berjalan dan tersenyum kembali, perlahan. 
Di 2015 aku menemukan banyak orang luar biasa, dari mereka aku belajar. Mendengarkan, berempati itu cara  aku belajar dari mereka. Nyatanya kita semua sepi, namun yang hebat adalah mereka yang bisa menggunakan sepi mereka dengan hal yang produktif. Manusia itu sungguh indah-indah. Cetek rasanya jika melihat keindahan manusia hanya dari fisiknya saja. Ya mungkin aku punya cara lain untuk melihat keindahan manusia. Meski kadang aku dibuat bingung oleh manusia dengan kelakuannya yang kadang tidak manusiawi, namun jauh dibalik itu mereka juga punya cerita. 
2015 banyak mengajak aku membaca manusia, meski kadang diri ini buta aksara. 

Tengah

Dengan segala rentetan perjalanan kehidupan, kita semua mencoba mencari apa itu rumah. Kemana harus kembali, selepas berpergian. Aku mencoba menjawab tanda tanya itu. Rumah yang pertama untuk aku adalah keluarga, terutama : bapak, mama, dan ke dua adikku. Mereka adalah tempatku pulang. Rumahku yang lain adalah segala rentetan perjalanan yang ada di hadapanku, rumah yang dibangun dengan cinta di dalam hati, rumah adalah kedamaian ketika kehidupan terus menusuk. 
Setelah mencoba membangun dan meninggalkan apa yang hancur, Aku
akhirnya perlahan bisa membebaskan diri dari rantai yang membelenggu diri. Perlahan tangisan tanpa alasan pukul tiga pagi mulai menghilang. 
Akhir 

Hidup adalah tanda tanya, begitu kata orang. Dan (lagi) aku mencoba menjawab dengan mengajukan keberanian yang aku miliki. Aku mencoba berani dari yang lain, awalnya merasa seperti sebuah cobaan. Namun yang terus membuatku maju dalam menyelesaiakan persoalan kehidupan adalah mencoba membayangkan jika masalahku dimiliki oleh orang lain, mungkin orang lain tidak sanggup. Dan kenapa harus aku ? (mungkin) karena aku sanggup menyelesaikannya, dan pada akhirnya aku melewatinya.
Tidak perlu takut dengan pikiran orang tentang kita, meski aku terkesan cuek aku sering memikirkan persepsi orang tentang diriku. Dan tahun ini aku belajar untuk mengurangi perasaan peduli terhadap pemikiran orang lain tentang diriku. Luruskan niat untuk tetap terus baik, lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan, toh pada akhirnya kemurnian dan kebaikan memang harus diuji. Dan hendaknya diri ini bisa tetap terus baik, orang lain akan terus berbicara dan mungkin bahkan aku juga sedang belajar untuk tidak berbicara (tentang sesuatu yang (seharusnya) tidak perlu dibicarakan). 
Seperti yang ditulis di awal 2015 adalah kehilangan dan menemukan. Tahun ini aku dianugerahi seorang Kenni. Hampir 19 tahun aku terpisah dengan Kenni, akhirnya aku dipertemukan. Seorang yang tak menolak untuk mendengar keluhan yang itu-itu saja. Kenni, yang hujan-hujanan mengajak ke toko buku, mengajak berpetualang untuk melihat kehidupan di luar untuk lebih bersyukur. Mengantar makan jauh dari rumah, demi mahasiswa yang penuh dengan keluhan. Kenni, puisiku yang tak mampu tertuang dengan kata. Yang sangat jarang menyetujui argumenku, but we are crazy about each other. ^^
——————
Banyak sebenarnya.
Berpetualang.
Mencoba hal-hal baru. 
Menangis tanpa alasan.
Mengapresiasi diri.
Mendengarkan. 
Belajar.
Belajar.
Untuk 2016 :………………………………………………………………………………………..
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s