Aku hancur,
Aku serampangan,
Aku tak bisa menahan hujan di pelupuk mata,
Suatu kali aku jalan dengan segenggam amarah di tangan,
Dengan segenap kesedihan di hati,
Dengan segala ketegaran yang memusingkan,
Lalu aku,
Aku mencoba menerima kehancuranku,
Senyuman tiba-tiba tergambar di bibirku.

Mungkin dengan menerima akan kehancuran yang ada di dalam maupun di luar diri bisa menenangkan. Mungkin dengan menerima kehancuran, bukan menyalahi kehancuran, bukan meratapi kehancuran. Penerimaan.

Advertisements

Published by

yanasafitri

Lahir tahun 1996.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s