A drop in the ocean or the ocean in a drop?

    Nemara namanya, anak pertama dalam keluarga bapak Amrie. Nemar berkelamin perempuan. Ketika bu Amrie hamil, mereka hendak memberi nama Nemar yang berasal dari kata ‘ramen’ dibalik setiap hurufnya dari belakang. Sederhana karena mereka berdua suka ramen. Kini usianya 23, sudah bekerja dua tahun di Bandung sebagai peneliti lepas dan guru Pendidikan Kewarganegaraan di SD dan SMA. Hingga suatu malam di sudut sebuah coffee shop dengan secangkir americano dan beberapa deadline yang meneriakinya Nemara memilih untuk menulis sebuah goresan pikiran tentang statusnya sebagai anak pertama. (Sederhana karena ia ingin menulis, menuangkan isi kepala yang membeku dan hendak dipanaskan agar mencair)
——
    Anak pertama berkelamin perempuan. Rasanya aku begitu sudah menikmati status ini. Status biarlah menjadi status, namun menjalankan norma dan segala paradigma tentang status tersebut adalah hal yang tidak semudah membaringkan badan di atas kasur. Usia ku 8 tahun pada kala itu, aku harus mampu menjadi manusia ‘sok’ dewasa dihadapan adik ku. Aku anak tertua namun usia ku masih anak-anak, emosi ku masih layaknya anak pula. Aku iri. Aku tidak mengerti mengapa harus mengalah, padahal bukan aku yang salah.  
    Usia ku sudah lima belas tahun, adik ku sebelas tahun. Tidak jauh. Aku tentu bisa menyapu, adik ku pun bisa ia bisa menggenggamnya dan kakinya pun bisa berjalan sempurna. Namun, aku lagi yang harus rajin menyapu. Tanpa diminta bahkan akan aku lakukan. Adik ku laki-laki sedang aku perempuan.
   Semasa sekolah dan kuliah aku harus mampu menggapai prestasi terbaik. Aku anak pertama, ibu dan ayah orang tua baik aku minta buku mahal dibelikan tanpa mengeluh meski mereka sedang paceklik. Bahkan sering aku beli barang tak penting, dengan segala argumen yang kuat mereka pun akan memberikan. Dengan segala perihal tersebut pula aku harus sadar untuk menjadi anak berprestasi yang menjadi panutan yang ketika berusia enam belas tahun adik ku sudah ada dua. Aku anak pertama, kiranya aku tak ingin membuat adik ku dicekoki pertanyaan oleh teman nya tentang ku dan dia malas menjawab karena aku bukan kakak yang baik.
    Hingga kini aku berusia 23 tahun, aku sudah mulai pusing memikirkan pertanyaan berceceran yang mencecar tentang pernikahan. Aku belum berhasrat menikah, bukan karena tak memiliki kekasih. Aku masih ingin manjadi aku, aku sang anak perempuan pertama. Belum ingin menjadi istri. Aku sudah berdamai menjadi anak perempuan pertama. 
   Kelak menikah nanti aku berstatus baru, banyak yang harus aku patuhi dan jalani. Hingga aku selalu kagum dengan setiap orang yang akhirnya memutuskan untuk menikah. Mereka sudah pasti menengguk hasrat atau cinta yang melelapkan mereka dari ketakutan akan pernikahan. 
   Hai pernikahan! Tapi sebentar lagi kamu akan menjemput ku. Idealisme ku yang ingin menikah tiga tahun lagi pada akhirnya runtuh, dengan lautan pertanyaan akan tentang mu. 
Lampung, 22 Juli 2015
Ditulis ketika memandang langit, dipelataran rumah sambil bobo2. 
Advertisements

Published by

yanasafitri

Lahir tahun 1996.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s