Sebelum Tidur

Sebelum tidur, aku merasakan kita berlari-lari di tengah padang rumput yang sering kita pandangi di sosial media, lalu kita beri tanda suka. Kita berlari-lari jauh sekali, tiada henti, tiada lelah.

Aku melihat matamu jatuh di ujung kelopak bunga yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, sementara aku lihat pipimu memerah, sepertinya karena terpapar sinar matahari terlalu banyak.

Aku berbisik padamu “aku tidak ingin kembali.” Kamu hanya diam, aku pun tidak memaksamu menjawab walau dalam diriku sungguh menggebu-gebu ingin mengetahui apa yang ada di benakmu. Ah sudahlah, lalu aku nikmati kembali lari bersamamu. Sampai pada titik di mana kita harus memilih di antar dua pilihan, yang satu kamu sukai sementara aku tidak pun sebaliknya.

Kita termangu, lalu “Ayo kita kembali,” katamu, aku mengikuti pintamu. Kita harus kembali pada yang teratur, pada roda yang berputar seperti seharusnya. Walau aku tidak ingin kembali, aku mengikuti pintamu agar kita kembali, tidak berlari-lari lagi. Toh aku senang, kita tidak memilih pilihan yang tadi harus kita hadapi. Kembali bersama adalah jalan kita. Selamat malam, aku belum tidur.

Jatinangor, 30 Agustus 2017.

Advertisements

PENGEMBANGAN POTENSI PEMUDA – PEMUDI BANDUNG MELALUI GERAKAN KEWIRAUSAHAAN SOSIAL

Oleh : Yana Safitri, Salsabila Wahyu Hadiyanti

Abstrak

Permasalahan pada kota – kota besar di Indonesia tentunya semakin hari semakin kompleks, hal ini jugalah yang sama dialami oleh Kota Bandung. Walaupun Kota Bandung saat ini telah melakukan banyak inovasi dan pengembangan, namun sayangnya Kota Bandung sendiri tidak dapat menghindari beragam permasalahan sosial yang ada. Salah satu upaya dalam mengatasi persoalan di Kota Bandung sendiri salah satunya yakni melalui gerakan kewirausahaan sosial dengan melibatkan generasi muda (pemuda – pemudi) Kota Bandung yang terkenal kreatif sebagai potensi bagi Kota Bandung sendiri. Praktik kewirausahaan sosial ini merupakan sebuah alternatif berbasis masyarakat yang berpotensi menyempurnakan proses pembangunan, dimana masyarakat dijadikan partner dalam proses pembangunan. Dengan adanya gerakan kewirausahaan sosial, hal ini tentunya mendorong kita untuk dapat memecahkan permasalahan sosial bukan didasarkan kepada hal – hal yang bersifat patologis semata, melainkan melalui pengembangan potensi melalui kegiatan – kegiatan yang menyenangkan.

Keywords: Kota Bandung, Pemuda – Pemudi, Kewirausahaan Sosial.

PENDAHULUAN

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Lughod (1991) bahwa perkotaan merupakan wilayah yang identik dengan beragam permasalahan yang menimpa warga masyarakatnya. Pernyataan ini semakin diperkuat dengan adanya pendapat Klenewsky (1997:3) yang menyatakan bahwa hal ini terjadi karena perkotaan merupakan tempat bertemunya ketidakseimbangan antara kesejahteraan dan kemiskinan, kontradiksi antara pertumbuhan dan kemunduran, dan kontras antara kerja sama sosial dan persaingan.

Permasalahan pada kota – kota besar di Indonesia tentunya semakin hari semakin kompleks. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Budiharjo terkait beragam permasalahan sosial yang muncul di kota – kota besar :

“Kota – kota besar di berbagai penjuru tanah air mengalami krisis yang belum pernah diderita sebelumnya. Sumpek macet, banjir, tercemar (baik secara fisik maupun budaya), menimbulkan degradasi lingkungan dan dehumanisasi. Angka kriminalitaspun meningkat, kenakalan anak – anak merebak, tawuran pelajar serta narkotika dan obat – obatan berbahaya (narkoba) merajalela” (Budiharjo, 2014:43)

Walaupun saat ini Kota Bandung telah melakukan inovasi dan pengembangan, namun sayangnya Kota Bandung sendiri tidak dapat menghindari beragam permasalahan sosial sebagaimana yang dikemukakan diatas.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan sosial yang ada di Bandung yakni melalui gerakan kewirausahaan sosial. Hal ini didasari dengan meninjau klasifikasi penduduk Kota Bandung sendiri dilihat dari kelompok umur (usia produktif) yang menunjukan presentase yang cukup besar. Hal inilah tentunya dapat menjadi potensi bagi Kota Bandung sendiri, terlebih generasi muda Kota Bandung terkenal kreatif dan sudah tidak diragukan lagi bahwa mereka pun sering memunculkan berbagai ide-ide kreatif.

 

Tabel 1. Penduduk Kota Bandung Menurut Kelompok Umur

Datat

(Sumber: Database SIAK Tahun 2013)

ISI

Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, salah satu bentuk praktik yang saat ini semakin tumbuh populer dan terasa manfaatnya sebagai partner pembangunan yakni gerakan kewirausahaan sosial. Hal ini dikarenakan melalui gerakan kewirausahaan sosial setiap elemen masyarakat dijadikan partner dalam aktivitas pembangunan, artinya sistem yang digunakan bukan lagi berbasis top down dimana pemerintah memegang kendali atas proses pembangunan melainkan melalui kewirausahaan sosial proses pembangunan dilaksanakan secara bottom – up yakni proses pembangunan justru berasal dari masyarakat yang dapat menunjang aktifitas pembangunan atau kebijakan pemerintah itu sendiri.

Pendapat ini semakin diperkuat melalui pendapat Skoll yang dikutip dalam buku yang ditulis oleh Herry Wibowo dan Sonny A. Nulhaqim, yang menjelaskan bahwa kewirausahaan sosial merupakan sebuah antitesis dari program pembangunan berbasis sosial politik yang cenderung memaksakan model top down kepada masyarakat (Skoll dalam Herry&Soni, 2015:109)

Kewirausahaan sosial dalam hal ini adalah sebuah gerakan yang didalamnya terdapat nilai pemberdayaan, membangun masyarakat, mentransformasikan insitusi dan juga meningkatkan solusi dan membawa dampak positif bagi masyarakat luas dalam pemecahan masalah sosial. Hal ini menunjukan bahwa gerakan kewirausahaan sosial merupakan kegiatan yang ceria, menyenangkan, kreatif, dan dapat dijadikan sebagai wadah penyaluran minat dan bakat yang dimiliki masyarakat. Dengan begitu, proses gerakan kewirausahaan sosial justru tidak berwujud sebagai bentuk “sumbangan” yang tentunya dapat membuat masyarakat penerima bantuan mejadi pasif.

Dalam  pelaksanaan praktiknya, tentunya terdapat perbedaan mendasar antara  praktik kewirausahaan sosial dan kewirausahaan biasa (bisnis) sebagaimana yang dikemukakan oleh Prof. Dr. H. Muhammad Djakfar, S.H., M.Ag :

“Dalam kaitan ini nampaknya dibedakan antara kewirausahaan sosial dengan kewirausahaan bisnis dalam banyak hal. Antara lain, kewirausahaan sosial berjalan dengan sebuah misi sosial yang jelas (eksplisit). Tujuan mereka adalah menjadikan dunia yang lebih baik. Hal ini mempengaruhi bagaimana mereka mengukur kesuksesan mereka dan mestruktur pengelolaannya. Menurut Dees cara terbaik mengukur kesuksesan kewirausahaan sosial bukan dengan menghitung jumlah profit yang dihasilkan, melainkan pada tingkat mana mereka telah menghasilkan nilai – nilai sosial (social value)” (Djakfar, 2012:22)

Ketika kewirausahaan biasa (bisnis) bertujuan untuk menggali keuntungan sebanyak – banyaknya dan meminimalkan pengeluaran sebagai biaya produksi, kewirausahaan sosial justru bergerak sebagai pelopor yang membawa misi sosial dan semangat untuk pemberian manfaat yang sebesar – besarnya.

Salah satu contoh konkret gerakan kewirausahaan sosial yang sudah dilaksanakan di Bandung diantaranya yakni Sanggar Waringin. Sanggar Waringin yakni sebuah praktik kewirausahaan sosial yang aktivitasnya dibangun di tengah Terminal Angkutan Kota Stasiun Hall Bandung. Inti dari aktivitas praktik kewirausahaan sosial yang berada di St- Hall Bandung ini adalah upaya menunjang program pemerintah dalam bidang pendidikan.

Selain Sanggar Waringin juga terdapat gerakan kewirausahaan sosial lainnya yakni Kumble Store yakni sebuah gerakan kewirausahaan sosial yang dilatarbelakangi oleh misi meminimalisir jeans yang sudah tidak terpakai menjadi barang yang layak pakai. Gerakan kewirausahaan sosial ini dipelopori oleh 6 mahasiswa aktif mahasiswa jurusan Kesejahteraan Sosial FISIP UNPAD.

Walaupun banyak yang menganggap bahwa aktifitas kewirausahaan sosial bukan sebuah aktivitas yang mudah dikelani dan diterjuni namun bukan tidak mungkin untuk mencoba gerakan ini yakni salah satunya melalui pemberian pendidikan terkait kewirausahaan sosial yang tentunya diberikan secara konsisten.

“Pola pendidikan kewirausahaan yang dianjurkan adalah yang mendorong siswa tidak sekedar mengenal (to know) atau mempelajari konsep – konsep (to learn) tentang kewirausahaan, namun yang mendorong mereka untuk menjadi wirausaha (to be entrepreneur). Artinya, titik tekan kurikulum didorong untuk lebih berat kepada praktik (practices) daripada sekedar berkutat diranah kognitif.” (Wibowo & Nulhaqim, 2015:88)

Manfaat dari mempelajari kewirausahaan sosial tentunya tidak hanya  ditunjukan bagi pemecahan masalah sosial melainkan juga sebagai bentuk pengembangan potensi individu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Herry Wibowo dan Soni A. Nulhaqim:

“Satu hal bawa, yang mereka lakukan di jenjang pendidikan, juga akan menambah emploibilitas mereka. Jikapun mereka menjadi pegawai, semangat kerja mereka akan diliputi rasa inovatif, inisatif, dan keberanian untuk menjelajah keranah kebaruan (out of the box), sehingga berpotensi menghasilkan produktifitas yang optimal” (Wibowo & Nulhaqim, 2015:89)

Berikut langkah  terpadu yang dapat dilakukan untuk menciptakan gerakan kewirausahaan sosial dalam diri pemuda – pemudi Kota Bandung diantara yakni melalui (1). Memasukan kewirausahaan sebagai kurikulum resmi setiap level pendidikan mulai sekolah dasar hingga pendidikan tinggi (2). Menyesuaikan pola belajar mengajar dengan semangat atau spirit kewirausahaan yaitu mendorong guru sebagai fasilitator yang meramu pengalaman dan kreativitas pendidik, memperbolehkan perbedaan pendapat dalam proses belajar, mengapresiasi ide dan gagasan yang diberikan.

 SIMPULAN

Praktik kewirausahaan sosial merupakan sebuah alternatif berbasis masyarakat yang berpotensi menyempurnakan proses pembangunan. Hal ini tentunya mendorong kita untuk dapat memecahkan permasalahan sosial bukan didasarkan kepada hal – hal yang bersifat patologis semata, melainkan melalui pengembangan potensi melalui kegiatan – kegiatan yang menyenangkan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Budiharjo, Eko. 2014. Reformasi Perkotaan (dalam sub BAB artikel Mengembalikan Senyum Warga Kota). Penerbit Kompas.

Djakfar, Muhammad. 2012. Etika Bisnis Menangkap Spirit Ajaran Langit dan Pesan Moral Ajaran Bumi. Jakarta: Swadaya.

Kleniewski, Nancy. 1997. Cities, Change and Conflict: a Political Economy of Urban Life. Wardsworth Publishing Company.

Wibowo, Hery & Soni A. Nulhaqim. 2015. Kewirausahaan Sosial: Merevolusi Pola Pikir dan Menginisiasi Mitra Pembangunan Kontemporer. Unpad Pers.

Wibowo, Hery. 2015. Kewirausahaan Sosial Masyarakat Perkotaan. Unpad Pers.

 

Catatan:

Artikel ini sudah masuk dalam Social Work Journal.

Love is not blind.

Love is crazy, that’s it.

It can take you to place, you’ve never imagined. It will make you do something beyond what people think. It’s crazy.

Caution:

Don’t be crazy.

Abu

Melintang di antara langit, menarik kapas-kapas awan yang berpadu dengan kesenduan siang. Ingat kawan ini baru siang hari, mengapa sudah begitu sendu?

Akhirnya aku lepas semua penat ini pada kehijauan sang alam. Namun, mengapa kosong? Ternyata sendu adalah bagian dari diri.

1489551615945

Namun aku selalu mencoba ingat, jangan sampai tenggelam!

Sedikit Tentang Mental Health

Mungkin tulisan ini akan banyak berada pada sudut pandang subjektif, yaudah lah nga papa. Pada akhirnya manusia memang tidak bisa terlepas dari kesubjektifan dirinya.

Pernah ndak kamu merasa lelah dengan seluruh hal dalam hidup? Ingin lenyap saja, bukan mati namun lenyap tidak pernah ada? Mungkin beberapa atau semua orang pernah merasakannya. Tapi lantas apakah lelah tersebut mengganggumu atau hanya sekelebat saja? Dan tetap menjalani hari dengan penuh matahari berbinar di hati atau lantas makin semakin merosot dalam jurang kesedihan hidup? Semua orang punya self-mechanism masing-masing, jadi jawabannya tidak pasti iya/tidak pada setiap orang.

Manusia memiliki dua hal yang harus kuat, yaitu kesehatan fisik dan jiwa. Sementara kesehatan fisik dapat dilihat atau dideteksi dengan fasilitas medis yang dapat ditemui dengan mudah. Bagaimana dengan kesehatan mental? Jika mental illness adalah sebuah penyakit, akankah kamu membiarkan seseorang mati perlahan karena penyakit tersebut tidak segera ditangani. Buktinya masih banyak orang yang melakukan bunuh diri, dan tidak semua karena mereka menderita penyakit fisik.

Data terbaru WHO mencatat bahwa setiap 40 detik, satu orang yang meninggal karena bunuh diri. Rasionya yaitu 11,4 per 100 ribu populasi. Sementara untuk di Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2012, angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100 ribu populasi. (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150911165128-20-78152/menyoal-kasus-bunuh-diri-di-indonesia/).

Processed with VSCO with p5 preset

Ini Kopi Es Tak Kie, sumpah enak banget. Cari aja sendiri di mana tempatnya!!! ahahahaha

 

Kehidupan yang semakin kompleks memunculkan pula sisi-sisi manusia yang semakin kompleks. Tak lain adalah, mental illness itu sendiri, menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran social. Menurut American Psychiatric Association (1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distress (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu.

Mental illness disbebabkan karena banyak faktor, mulai dari faktor organik/somatik seperti ada kelainan pada otak. Lalu, faktor psikis yang memang disebabkan oleh gangguan pada reaksi atas impuls-impuls yang ada, ketidakmampuan untuk memikul pikiran, kesedihan, depresi, disintegrasi kepribadian dan lain sebagainya. Dan faktor yang satu ini adalah faktor eksternal, yang memang muncul dari luar diri manusia itu sendiri, yaitu faktor lingkungan/sosial, ngerasa gak sih dunia makin berjalan cepat modernitas, gaya hidup, perubahan terus terjadi lalu beberapa manusia tidak smua dapat adaptif dengan itu semua, atau lingkungan sosial yang tidak mendukung dia untuk tumbuh sebagai manusia sesungguhnya. Seperti misalkan ada orang yang homoseksual, terus dikucilkan seakan hidup dia memang hina, bukan diempowerment.

Ya faktornya memang banyak, saya yakin semua orang pernah stress dan merasa giving up dengan dunia, tapi tidak semua orang capable untuk mengatasi itu semua. Ada orang introvert dan extrovert, mungkin extrovert lebih mudah untuk coping situasi sulit dalam dirinya (labelling nga jatuhnya) tapi sejauh ini demikian yang saya amati. Sementara mereka yang introvert kalau sudah masuk ke black hole mereka memilih diam, dan semakin masuk ke sana. Dan tidak mudah untuk menceritakannya pada orang lain. Dan itu somehow membuat mereka kewalahan dan berujung pada stres dan bahkan depresi.

Ya tulisan ini, gak tahu arahnya ke mana. Pokoknya saya hanya ingin memberitahu pada siapa pun yang diberikan kesempatan oleh Tuhan YME untuk membaca ini, pedulilah dengan orang-orang di sekitar anda. Lebih aware aja, gak perlu mempertanyakan mereka stres atau depresi atau apa, kalau memang mereka butuh bantuan berikan, kalau nga meminta maaflah karena kapasitas diri anda belum bisa membantu. Oh ya, sebenarnya jenis mental illness ada banyak, ada banyak sekali bacaan menganai itu, atau bisa langsung cek di sini: https://undas.co/2015/10/yuk-mengenal-apa-itu-mental-illness/ BACA YA! jangan apa-apa saling tuduh wkwk. apaan.

Jangan menguburkan orang yang belum mati kawan. Jangan. Sirami mereka dengan air, biarkan mereka merekah. Jangan anggap mereka yang memiliki mental illness itu tidak beradaya, hanya karena stigma kita yang demikian and ahanya perlu memahami mereka, dan memberi mereka ruang untuk berkeskpresi. Sedih banyak orang dipasung karena mental illness 😦

Buat siapa pun yang membaca ini, sehat/tidak sehat secara fisik atau psikis. Saya peduli dengan kalian, saya mau mendengar cerita anda dan berbagi jangan merasa sendiri. 🙂

Beneran ya, manusia itu kompleks banget but beautiful.

erk-x-barasuara-2

Bonus photo Iga Masardi dan Cholil, bekaus pas ngetik sambil mendengarkan                       SFTC: Efek Rumah Kaca x BARASUARA

hobi renang

We can be both the dust of the universe or be the universe,
Your mind can be the universe, at the same time it can be the dustiest place of the universe,
You can be the part of the universe, or the universe can be the part of you,
You can be huge as the universe, you can be smallest in the universe,
The thing is your mind sometimes depends who you are.

Written 2 years ago, February 28.

Ruangan ini aku buatkan untukmu, walau tidak luas aku harap ini cukup untuk menampung malammu yang gelap. Meneranginya dengan lampu kecil yang sudah kusiapkan di dalamnya.

1488026403585

Ruangan ini tak senyaman, pantai yang pernah kau datangi di bulan November tahun lalu. Tapi yakinlah, suara-suara dalam ruangan yang ku berikan bisa meredakan suara gemuruh dan badai yang selama ini menakutimu.

Terimalah ruang yang kuberikan.

I don’t have a name for this feeling, but now I’m so above between the clouds and I can’t see your face.

Other time, I would feel like I’m underwater, drowning into the deepest and nothing let me out from the ocean. “i couldn’t breath, i couldn’t breath” i whisper under the water, i hear nothing but my own death.

But I lived again.

I could fly higher than the bird could be, but i was still feeling not free. I flied to the top of mount Everest. I didn’t feel cold, but inside had already frozen before I flied. That time, i dead again.

When would this stop? I asked God.

Until you find yourself, God answered.

I’m between the clouds, can you see me now? Help me find myself, darling.

To Those

To those who wake up every morning and struggling with dark mind,

I know get up every morning is not easy, it is not because you are lazy, that darkness inside your mind right when you wake up somehow creates anxiety that makes you even more barely to get up from bed. You wished to disappear while you were sleeping but you are not.

I love the way you struggle and create your own energy.

To those who wake up every morning and struggling, maybe your death can be today or tomorrow. But I saw you were dead inside yesterday, no one showing their grief over your death. hahaha You see, you are alive, you have another day to live.

To those who wake up every morning and struggling, you are questioning what is it life for. You won’t get the answer now, do not trying harder to find the answer. Life is funny sometimes, it doesn’t always give you reason but you have to do it anyway.

To those who wake up every morning and struggling, you are anxious in crowded place you think you need to stop being anxious, and you cursing a lot because you are incapable to handle it. It doesn’t matter how many times you are being anxious, remember you will survive it anyway. Enjoy it, if you can not control it.

To those who wake up every morning and struggling, you think you are failed. You don’t if you already tried. If you still call lesson as failure, baby you can consider it as life’s mark. It’s okay to have scars, you are beautiful. Just like the sky with the dark colors.

To those who wake up every morning and struggling,

You are fine.

Sorry, for not helping.

December 7, 2016