hehe

 Tuhan mencipta manusia, dengan guratan porsinya masing-masing yang menjadikannya indah. Namun, mengapa manusia terus mendamba kata indah dari manusia yang lain. Kita terbentuk atas cinta kasih ayah-ibu, yang kemudian mengatakan betapa cantiknya kita. Namun, masih merasa perlu kata cantik dari yang bahkan tak menahu bagaimana menanyakan apa kabar dengan tepat.

Processed with VSCO with m4 preset

Advertisements

Luna, Lombok dan Awal Tahun.

Aku ingin menyatu dengan tiap deburan ombak, pada tiap pekikan suaranya yang perlahan menepi, lalu terhempas kembali pada lautan. Menghajar batu di tepian yang keras, berbisik pada tumbuhan pinggir pantai yang tak butuh perhatian. Namun aku, takut tenggelam.

Awal 2018, tanpa basa-basi aku diajak Aluna pergi ke Lombok, sempat berat hati namun akhirnya berangkat juga. 1 Januari kami berangkat, kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta, Tangerang. Padahal, biasanya jarak Jogja-Bandung membentang di antara kami. Kali ini, jarak antara kami hanya hening yang bahkan masih dapat dinikmati. Perjalanan antara dua orang sahabat, yang sudah lama tidak berjumpa. Luna akan benci dan senyum sendiri aku menulis dengan cara seperti ini. Hahahaha.

Perjalanan ini membawa saya bukan hanya menyelami lautan, namun menilik kembali sahabat saya yang satu ini. Dibanding Luna tentu, jam terbang untuk naik pesawat masih banyak dia, namun hal yang baru aku tahu dia masih takut ketika pesawat akan landing. Perjalanan ke Lombok membuat diri ini tersadar kembali, pada diri manusia tersimpan ketakutan-ketakutan yang berdesakan ingin berhamburan keluar, yang bisa dilakukan diri ini adalah melawan. Luna adalah orang yang sering melawan ketakutan. Padanya saya belajar.

Sampai di Lombok kami pergi ke suatu Desa (lupa namanya huhu) untuk melihat bagimana menenun kain, di sana kami diajak untuk menenun. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba membatik, tak jauh-jauh ternyata sama-sama sulit. Dalam tiap garis tenun terdapat energi, emosi, kesabaran dan ketelitian penenun. Itu mengapa setiap pergi ke suatu daerah dan mempelajari sesuatu, membuat saya sadar untuk lebih menghargai setiap karya yang tercipta oleh anak negeri.

Lombok menyimpan berbagai santapan lezat mulai dari makanan berat hingga aneka sambalnya. Mungkin di kala malam saat hening mulai menjemput, saya akan merindukan rasa-rasa sambal yang luar biasa menggugah. Soal makan-memakan dengan Aluna sebenarnya saya sangat tahu, Luna pemakan segala jenis makanan dari barat dunia hingga timur dunia, tapi Luna punya caranya sendiri untuk menikmati makanan itu mana yang harus ia telan, mana yang hanya dapat menjadi angan belaka. Luna takut gendut, namun Luna menjadikan ketakutan tersebut sebuah strategi memiliah makanan.

Pada hari ke dua kami dibawa ke Pantai Pink, tepatnya berada di Timur Lombok. Menuju ke sana kami harus menggunakan perahu, sebelum menepi ke pantai kami melakukan snorkling, sebelumnya saya belum pernah snorkling. Lagi, ketakutan membuncah dan meminta dikeluarkan. Akhirnya saya memberanikan diri untuk snorkling. Melihat ke bawah laut banyak sekali ragam ikan yang disuguhkan oleh alam Lombok, ikannya warna-warni, lucu sekali. hahaha. Rasanya melihat ke bawah? damai. Namun, entah kenapa ketika kepala kembali melihat ke atas ketakutan itu akan muncul kembali. Mungkin ketakutan sebenarnya bukan tenggelam di lautan, tapi tenggelam di  daratan yang nampak baik-baik saja dalam kekacauan.

Hari ketiga masih sama diisi dengan kegiatan snorkling, pada saat jam makan siang kami diajak menepi ke Gili Trawangan, saya cuma bengong sambil berpikir “damai banget, baka ada apa ya di 2018 ini…” Selesai menyantap makan siang, azan samar-samar mulai terdengar berkumandang. Saya yang miskin pengetahuan sepertinya, karena awalnya saya mengira Lombok didominasi oleh mereka yang beragama Hindu/Budha ternyata di sana mayoritas islam.

Selesai menyantap makan siang, kami bersepedah berkeliling di tepian Gili Trawangan, lebih banyak turis dari mancanegara. Mereka pasti memiliki alsan memilih pergi ke Lombok dengan berbagai alasan, namun kemungkinan penyesalan untuk menyambangi lombok agaknya sangat kecil. Lombok mengajak setiap pengunjungnya untuk bersantai dan berpikir secara bersamaan, tanpa meminta kita untuk tergesa-gesa namun tetap berjalan.

Malamnya, kami makan malam di pinggir pantai. Luna banyak mengajak berdialog, tentang cinta yang tak ada habisnya. Tentang tanda tanya, tentang koma, bukan titik, karena titik hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Dengan penuh bahagia dan cemas saya meninggalkan Lombok, terpisah kembali dengan Luna, hanya bisa berharap semoga kami baik-baik saja, dan mencapai apa yang sudah menjadi tujuan kami masing-masing.

September

Aku akhir-akhir ini termangu, tidak sampai pagi tapi jika waktu tersebut digunakan untuk terbang aku sudah sampai di pelataran Taj Mahal melihat anak-anak muda bersendau gurau.

Kembali pada lamunanku. Lamunku. Aku ingin kembali ke rahim ibu. Merasakan tiap tumpah darah yang dirasakan ibu, belajar banyak tidak mengeluh walau seringkali getir sudah sampai di ujung pisau. Aku ingin kembali ke rahim ibu, merasakan, belajar tidak banyak melempar peluh.

Namun, lamunanku akhir-akhir ini, aku juga ingin kembali kepada yang alpa, yang tidak hadir. Yang tak pernah ada.

Tapi di sinilah aku sudah berdiri, memandang lampu temaram di jalanan pukul 11 malam. Aku sudah bertahan hingga aku tidak pernah takut pergi ke Jogja sendiri, walau pukul 3 pagi sendirian di stasiun. Aku sudah melewati ribuan malam sendiri yang kadang penuh tangis, walau tidak menghasilkan hipotesis apa pun.

Aku sudah pernah sampai titik memberi asupan pengetahuan pada anak di perkampungan, membuat mereka memelukku karena cinta kasih yang aku sembunyikan ternyata sampai juga pada hati mereka.

Aku sudah sampai. Walau aku merasa tak pernah sampai. Persetan memang dengan asumsi.

yana

Si Buta dan Si Tuli

Alkisah ada sebuah negeri, isinya ada Si Buta dan Si Tuli.

Si Buta tidak bisa membaca ia hanya mendengar apa saja yang terdengar oleh telinganya, mencernanya menjadi informasi dan mengkonstruksi cara berpikir dan pandang dari apa yang merasuk dalam telinga mereka. Si Tuli, mereka membaca tapi tidak mendengar apa yang dikatan orang. Percaya pada kata-kata yang dituliskan di buku, tidak mendengar apa yang sungguh hadir dalam masyarkat.

Apakah mereka bertahan? Bertahan, hanya saja dalam kehancuran mereka menari setiap hari.

Sebelum Tidur

Sebelum tidur, aku merasakan kita berlari-lari di tengah padang rumput yang sering kita pandangi di media sosial, lalu kita beri tanda suka. Kita berlari-lari jauh sekali, tiada henti, tiada lelah.

Aku melihat matamu jatuh di ujung kelopak bunga yang tidak pernah kita lihat sebelumnya, sementara aku lihat pipimu memerah, sepertinya karena terpapar sinar matahari terlalu banyak.

Aku berbisik padamu “aku tidak ingin kembali.” Kamu hanya diam, aku pun tidak memaksamu menjawab walau dalam diriku sungguh menggebu-gebu ingin mengetahui apa yang ada di benakmu. Ah sudahlah, lalu aku nikmati kembali lari bersamamu. Sampai pada titik di mana kita harus memilih di antar dua pilihan, yang satu kamu sukai sementara aku tidak pun sebaliknya.

Kita termangu, lalu “Ayo kita kembali,” katamu, aku mengikuti pintamu. Kita harus kembali pada yang teratur, pada roda yang berputar seperti seharusnya. Walau aku tidak ingin kembali, aku mengikuti pintamu agar kita kembali, tidak berlari-lari lagi. Toh aku senang, kita tidak memilih pilihan yang tadi harus kita hadapi. Kembali bersama adalah jalan kita. Selamat malam, aku belum tidur.

Jatinangor, 30 Agustus 2017.

Love is not blind.

Love is crazy, that’s it.

It can take you to place, you’ve never imagined. It will make you do something beyond what people think. It’s crazy.

Caution:

Don’t be crazy.

Abu

Melintang di antara langit, menarik kapas-kapas awan yang berpadu dengan kesenduan siang. Ingat kawan ini baru siang hari, mengapa sudah begitu sendu?

Akhirnya aku lepas semua penat ini pada kehijauan sang alam. Namun, mengapa kosong? Ternyata sendu adalah bagian dari diri.

1489551615945

Namun aku selalu mencoba ingat, jangan sampai tenggelam!

Sedikit Tentang Mental Health

Mungkin tulisan ini akan banyak berada pada sudut pandang subjektif, yaudah lah nga papa. Pada akhirnya manusia memang tidak bisa terlepas dari kesubjektifan dirinya.

Pernah ndak kamu merasa lelah dengan seluruh hal dalam hidup? Ingin lenyap saja, bukan mati namun lenyap tidak pernah ada? Mungkin beberapa atau semua orang pernah merasakannya. Tapi lantas apakah lelah tersebut mengganggumu atau hanya sekelebat saja? Dan tetap menjalani hari dengan penuh matahari berbinar di hati atau lantas makin semakin merosot dalam jurang kesedihan hidup? Semua orang punya self-mechanism masing-masing, jadi jawabannya tidak pasti iya/tidak pada setiap orang.

Manusia memiliki dua hal yang harus kuat, yaitu kesehatan fisik dan jiwa. Sementara kesehatan fisik dapat dilihat atau dideteksi dengan fasilitas medis yang dapat ditemui dengan mudah. Bagaimana dengan kesehatan mental? Jika mental illness adalah sebuah penyakit, akankah kamu membiarkan seseorang mati perlahan karena penyakit tersebut tidak segera ditangani. Buktinya masih banyak orang yang melakukan bunuh diri, dan tidak semua karena mereka menderita penyakit fisik.

Data terbaru WHO mencatat bahwa setiap 40 detik, satu orang yang meninggal karena bunuh diri. Rasionya yaitu 11,4 per 100 ribu populasi. Sementara untuk di Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2012, angka bunuh diri mencapai 4,3 per 100 ribu populasi. (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150911165128-20-78152/menyoal-kasus-bunuh-diri-di-indonesia/).

Processed with VSCO with p5 preset

Ini Kopi Es Tak Kie, sumpah enak banget. Cari aja sendiri di mana tempatnya!!! ahahahaha

 

Kehidupan yang semakin kompleks memunculkan pula sisi-sisi manusia yang semakin kompleks. Tak lain adalah, mental illness itu sendiri, menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa, yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam melaksanakan peran social. Menurut American Psychiatric Association (1994), gangguan mental adalah gejala atau pola dari tingkah laku psikologi yang tampak secara klinis yang terjadi pada seseorang dari berhubungan dengan keadaan distress (gejala yang menyakitkan) atau ketidakmampuan (gangguan pada satu area atau lebih dari fungsi-fungsi penting) yang meningkatkan risiko terhadap kematian, nyeri, ketidakmampuan atau kehilangan kebebasan yang penting dan tidak jarang respon tersebut dapat diterima pada kondisi tertentu.

Mental illness disbebabkan karena banyak faktor, mulai dari faktor organik/somatik seperti ada kelainan pada otak. Lalu, faktor psikis yang memang disebabkan oleh gangguan pada reaksi atas impuls-impuls yang ada, ketidakmampuan untuk memikul pikiran, kesedihan, depresi, disintegrasi kepribadian dan lain sebagainya. Dan faktor yang satu ini adalah faktor eksternal, yang memang muncul dari luar diri manusia itu sendiri, yaitu faktor lingkungan/sosial, ngerasa gak sih dunia makin berjalan cepat modernitas, gaya hidup, perubahan terus terjadi lalu beberapa manusia tidak smua dapat adaptif dengan itu semua, atau lingkungan sosial yang tidak mendukung dia untuk tumbuh sebagai manusia sesungguhnya. Seperti misalkan ada orang yang homoseksual, terus dikucilkan seakan hidup dia memang hina, bukan diempowerment.

Ya faktornya memang banyak, saya yakin semua orang pernah stress dan merasa giving up dengan dunia, tapi tidak semua orang capable untuk mengatasi itu semua. Ada orang introvert dan extrovert, mungkin extrovert lebih mudah untuk coping situasi sulit dalam dirinya (labelling nga jatuhnya) tapi sejauh ini demikian yang saya amati. Sementara mereka yang introvert kalau sudah masuk ke black hole mereka memilih diam, dan semakin masuk ke sana. Dan tidak mudah untuk menceritakannya pada orang lain. Dan itu somehow membuat mereka kewalahan dan berujung pada stres dan bahkan depresi.

Ya tulisan ini, gak tahu arahnya ke mana. Pokoknya saya hanya ingin memberitahu pada siapa pun yang diberikan kesempatan oleh Tuhan YME untuk membaca ini, pedulilah dengan orang-orang di sekitar anda. Lebih aware aja, gak perlu mempertanyakan mereka stres atau depresi atau apa, kalau memang mereka butuh bantuan berikan, kalau nga meminta maaflah karena kapasitas diri anda belum bisa membantu. Oh ya, sebenarnya jenis mental illness ada banyak, ada banyak sekali bacaan menganai itu, atau bisa langsung cek di sini: https://undas.co/2015/10/yuk-mengenal-apa-itu-mental-illness/ BACA YA! jangan apa-apa saling tuduh wkwk. apaan.

Jangan menguburkan orang yang belum mati kawan. Jangan. Sirami mereka dengan air, biarkan mereka merekah. Jangan anggap mereka yang memiliki mental illness itu tidak beradaya, hanya karena stigma kita yang demikian and ahanya perlu memahami mereka, dan memberi mereka ruang untuk berkeskpresi. Sedih banyak orang dipasung karena mental illness 😦

Buat siapa pun yang membaca ini, sehat/tidak sehat secara fisik atau psikis. Saya peduli dengan kalian, saya mau mendengar cerita anda dan berbagi jangan merasa sendiri. 🙂

Beneran ya, manusia itu kompleks banget but beautiful.

erk-x-barasuara-2

Bonus photo Iga Masardi dan Cholil, bekaus pas ngetik sambil mendengarkan                       SFTC: Efek Rumah Kaca x BARASUARA

hobi renang

We can be both the dust of the universe or be the universe,
Your mind can be the universe, at the same time it can be the dustiest place of the universe,
You can be the part of the universe, or the universe can be the part of you,
You can be huge as the universe, you can be smallest in the universe,
The thing is your mind sometimes depends who you are.

Written 2 years ago, February 28.